Friday, July 21Memberikan Berita Yang Independen,Mencerdaskan Dan Menginspirasi

Inilah Perjuangan Tunanetra yang Sukses Menjadi Wisudawan Terbaik Sastra Inggris Udinus

Share

JETTNEWS.COM, Semarang – Tidak sedikit penyandang disabilitas yang mempunya atau memiliki prestasi dan penghargaan di berbagai bidang. Seperti Eka Pratiwi Taufani, baginya menjadi penyandang disabilitas bukanlah penghalang untuk berprestasi. Ia merupakan seorang tunanetra sukses menjadi wisudawan terbaik dari jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro (Udinus).

Putri pasangan M. Taufik Hidayat dan Emma Hermawati ini berhasil meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,74. Eka yang dalam perkuliahannya harus berusaha lebih keras karena tidak bisa membaca langsung materi yang diajarkan. Dia baru bisa membaca materi perkuliahan jika materi itu berupa softfile yang kemudian akan diproses dengan aplikasi pembaca layar pada komputer l.

“Iya, susahnya kalau materinya hardcopy harus nyecan dulu, nyecannya juga pake aplikasi khusus open book biar bisa dibaca,” kata Eka usai wisuda ke-57 Udinus di Hotel Patrajasa Semarang, Rabu (24/8).

Kendati demikian, ternyata proses kuliahnya yang menggandalkan aplikasi ini menginspirasinya untuk menuangkan gagasan tentang manfaat teknologi bagi tunanetra. Sistem pembelajaran bagi tunanetra selama ini hanya menggunakan braille yang sudah tidak lagi efektif. Mengingat tidak banyak buku-buku serta materi yang tersedia dalam braille.

Gagasannya tentang pembelajaran bagi tunanetra dengan memanfaatkan teknologi saat ini mengantarkan Eka mewakili Indonesia dalam ajang World Blind Union regional Asia Pasific di Hongkong 2014 silam. Ia masuk 8 besar yang membuatnya berhak mempresentasikan essaynya tersebut.

“Gagasannya simpel banget, cuma bagaimana sih peningkatan kemampuan bahasa Inggris bagi tunanetra memakai aplikasi yang tersedia dalam android. Jadi ada suaranya, kan banyak sekarang dan mudah,” imbuh Eka.

Dara kelahiran Brebes, 16 November 1991 ini berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun atau delapan semester saja. Eka yang bercita-cita menjadi guru ini sempat pesimistis. Namun kini, peluang mengajar terbuka saat Udinus menawarkan kesempatan mengajar. Meski harus masuk dan menyelesaikan S2 terlebih dahulu. “Dulu mana ada sih yang mau nerima ngajar, tapi sekarang harapannya bisa tumbuh lagi,” pungkas Eka.

Editor : Ej

Baca Juga : Eka Pratiwi, Tunanetra yang Sukses jadi Wisudawan Terbaik Sastra Inggris Udinus

 

Leave a Reply